Aku berhenti di batas selatan kota ini. Sosokmu menghentikan langkahku. Ya! iku kamu. Sosokmu terlihat jelas, begitu nyata. Kau berjalan menuju telpon umum itu sementara aku hanya berdiri memandangmu. Tak ada suara. Dari mulutku ataupun mulutmu. Walau kulihat bibirmu bergerak-gerak tapi tak ada suara. Rambutmu yang terurai sesekali kau sibakkan kala menutupi keningmu. Kau begitu indah di mataku.
Semua ini tampak begitu nyata. Bukan kenangan, bukan pula bayangan. Mungkin hanya ilusi, tapi aku tak peduli. Aroma parfummu masih ku rasakan. Ku lihat kau hanya diam. Tak menghampiriku, tak menatapku. Aku pun ragu untuk menghampirimu, aku tak ingin kau menjauh lagi, untuk kesekian kali. Tapi betapa ku ingin menyapamu sekali lagi.
Aku masih berdiri di batas kota ini, bersama hiruk pikuk jalanan yang tak kunjung sepi. Entah berapa kali kereta melintas, entah berapa kali bis kota berhenti lalu pergi lagi dengan raungan buas. Kau pun masih di situ, di telpon umum itu. Dengan senyumanmu yang entah untuk siapa di ujungnya. Binar matamu pun semakin memperindah senja ini. Sedangkan ku masih menikmati keindahanmu dengan caraku sendiri, bersama mentari yang mulai tenggelam di batas langit dan bumi.
Surabaya, Januari 2012