Sudah lama aku mencarimu. Di setiap sudut kota, di semua taman-taman di kota ini. Hingga aku mengenal seorang temanmu dan dia memberitahuku tentangmu. Aku pun melihatmu untuk pertama kalinya sejak kita berpisah, sembilan tahun yang lalu. Senyummu masih sama, sinar matamu masih sama, aroma tubuhmu masih sama.
Aku mengikutimu kemana pun kau pergi. Aku mendengar setiap kata dari bibirmu, setiap tarikan nafasmu. Aku menikmati lagi segala keindahanmu, ku rasakan semua gundah dan resah gelisahmu. Tapi kau tak bisa melihatku. Ku masih sembunyi di lorong gelap, di balik kabut pekat. Ku masih ingin menikmati indahmu dengan caraku sendiri, seperti dulu lagi.
Hingga hari itu, hari yang selalu ku ingat, 15 Juli, hari ulang tahunmu. Hari yang mungkin pernah kau lupakan, tapi tak sedetik pun ku hapuskan dari ingatan. Ku tulis sebuah pesan di facebookmu. Hanya beberapa kata dan titik koma.
+ Met Ulang tahun, Day.
- Nih sapa ya?
+ Riyan…
Lalu kau diam.
Sebulan kemudian kau pun masih diam. Di suatu malam yang masih tak terlalu larut, ku menyapamu sekali lagi.
+ Day
- Da pa?
+ Gpp. Dirumah ta?
- Y
+ Pa kabar?
- Alhamdulillah baek
+ Kok lom tidur?
…………….
Kau diam sekali lagi.
+ Swiit dream. Bye!
………………
Lima hari rasanya terlalu lama, mungkin kau terlalu sibuk dengan urusanmu, atau mungkin aku yang terlalu nganggur yang tiap hari hanya menunggu jawabanmu. Ku menyapamu sekali lagi.
+ Day
……
Ternyata kau masih diam, tak ada jawaban. Ku tinggalkan saja pesan untukmu.
Pernah ku rasakan dinginnya malam
Saat kau berlalu dalam diam
Tanpa kata, tanpa titik koma
Meninggalkanku dengan ribuan tanda tanya
September tanggal 25. Sudah 34 kali hari berganti. Betapa ku ingin menyapamu berkali-kali lagi.
+ Day, libur ta?
- Ya. Lagi sakit
+ Sakit apa?
- Biasa kecapean dan demam
+ Nggak malarindu ta?
- â‹Äªќ>&’”>:
+ Pacar kamu masih di Arab ta? Kapan nikah? Tunggu bulan 6?
…………..
Kau diam untuk kesekian kali.
November tanggal 20, hampir dua bulan terlewati. Ku masih ingin menyapamu.
+ Day
- Hmmm
+ Gpp. Cuma ingin nyapa
- Ow
+ Maju bulan mei? Alhamdulillah
- Hah?!?
+ Undang aku ya?
- Undang untuk apa?
+ Pernikahanmu lha?
- Ow. Emang kalo aku undang kamu datang?
+ InsyaAllah
- Hmmm
+ Endra udah nikah
- Ya, aku udah tau kok
+ Hahaha… Jadi inget dulu. Waktu Endra ke rumahmu, bawa nangka, pisang. Melamar kamu
- Yang di Lamongan ta?
+ Iya. Ya kasian. Tapi ya gimana ya?
- Lha sapa yang nyuru. Dia sendiri kok. Bukan aku yang minta toh?
+ Memang. Tapi satu hal yang pasti. Dia begitu cuinta ama kamu
- Masak?
+ Kalo gak cuinta gak mungkin sampe nekat begitu.
- Halah. Dulu ama Tri juga gitu kok. Jadi bukan aku aja yang digituin ama Endra
Tapi denger-denger ada satu orang yang sampe sekarang cinta ama aku
+ Siapa?
- Ada dech
+ Ooo aku tau. Rido ya?
- Bukan
+ Sapa lho?
- Ada pokoknya
+ Kalo temen SMA yang suka ama kamu setahuku, Alm. Hasan, Rido, Endra. Masak Nuril?
- Ada satu lagi
+ Aku. Iya ta?
…………
+ Day…
……..
November, tanggal 22. Pagi ini, hari berganti sekali lagi. Mendung banyak tergantung di angkasa. Reremputan juga masih basah oleh embunnya. Ku masih ingin menyapamu sekali lagi.
+ Day…
…………