Feeds:
Posts
Comments

Aku berhenti di batas selatan kota ini. Sosokmu menghentikan langkahku. Ya! iku kamu. Sosokmu terlihat jelas, begitu nyata. Kau berjalan menuju telpon umum itu sementara aku hanya berdiri memandangmu. Tak ada suara. Dari mulutku ataupun mulutmu. Walau kulihat bibirmu bergerak-gerak tapi tak ada suara. Rambutmu yang terurai sesekali kau sibakkan kala menutupi keningmu. Kau begitu indah di mataku.

Semua ini tampak begitu nyata. Bukan kenangan, bukan pula bayangan. Mungkin hanya ilusi, tapi aku tak peduli. Aroma parfummu masih ku rasakan. Ku lihat kau hanya diam. Tak menghampiriku, tak menatapku. Aku pun ragu untuk menghampirimu, aku tak ingin kau menjauh lagi, untuk kesekian kali. Tapi betapa ku ingin menyapamu sekali lagi.

Aku masih berdiri di batas kota ini, bersama hiruk pikuk jalanan yang tak kunjung sepi. Entah berapa kali kereta melintas, entah berapa kali bis kota berhenti lalu pergi lagi dengan raungan buas. Kau pun masih di situ, di telpon umum itu. Dengan senyumanmu yang entah untuk siapa di ujungnya. Binar matamu pun semakin memperindah senja ini. Sedangkan ku masih menikmati keindahanmu dengan caraku sendiri, bersama mentari yang mulai tenggelam di batas langit dan bumi.

Surabaya, Januari 2012

Sudah lama aku mencarimu. Di setiap sudut kota, di semua taman-taman di kota ini. Hingga aku mengenal seorang temanmu dan dia memberitahuku tentangmu. Aku pun melihatmu untuk pertama kalinya sejak kita berpisah, sembilan tahun yang lalu. Senyummu masih sama, sinar matamu masih sama, aroma tubuhmu masih sama.

Aku mengikutimu kemana pun kau pergi. Aku mendengar setiap kata dari bibirmu, setiap tarikan nafasmu. Aku menikmati lagi segala keindahanmu, ku rasakan semua gundah dan resah gelisahmu. Tapi kau tak bisa melihatku. Ku masih sembunyi di lorong gelap, di balik kabut pekat. Ku masih ingin menikmati indahmu dengan caraku sendiri, seperti dulu lagi.

Hingga hari itu, hari yang selalu ku ingat, 15 Juli, hari ulang tahunmu. Hari yang mungkin pernah kau lupakan, tapi tak sedetik pun ku hapuskan dari ingatan. Ku tulis sebuah pesan di facebookmu. Hanya beberapa kata dan titik koma.

+ Met Ulang tahun, Day.
- Nih sapa ya?
+ Riyan…

Lalu kau diam.

Sebulan kemudian kau pun masih diam. Di suatu malam yang masih tak terlalu larut, ku menyapamu sekali lagi.

+ Day
- Da pa?
+ Gpp. Dirumah ta?
- Y
+ Pa kabar?
- Alhamdulillah baek
+ Kok lom tidur?
…………….

Kau diam sekali lagi.

+ Swiit dream. Bye!
………………

Lima hari rasanya terlalu lama, mungkin kau terlalu sibuk dengan urusanmu, atau mungkin aku yang terlalu nganggur yang tiap hari hanya menunggu jawabanmu. Ku menyapamu sekali lagi.

+ Day
……

Ternyata kau masih diam, tak ada jawaban. Ku tinggalkan saja pesan untukmu.

Pernah ku rasakan dinginnya malam
Saat kau berlalu dalam diam
Tanpa kata, tanpa titik koma
Meninggalkanku dengan ribuan tanda tanya

September tanggal 25. Sudah 34 kali hari berganti. Betapa ku ingin menyapamu berkali-kali lagi.

+ Day, libur ta?
- Ya. Lagi sakit
+ Sakit apa?
- Biasa kecapean dan demam
+ Nggak malarindu ta?
- ​Ъќ>&’”>:
+ Pacar kamu masih di Arab ta? Kapan nikah? Tunggu bulan 6?
…………..

Kau diam untuk kesekian kali.

November tanggal 20, hampir dua bulan terlewati. Ku masih ingin menyapamu.

+ Day
- Hmmm
+ Gpp. Cuma ingin nyapa
- Ow
+ Maju bulan mei? Alhamdulillah
- Hah?!?
+ Undang aku ya?
- Undang untuk apa?
+ Pernikahanmu lha?
- Ow. Emang kalo aku undang kamu datang?
+ InsyaAllah
- Hmmm
+ Endra udah nikah
- Ya, aku udah tau kok
+ Hahaha… Jadi inget dulu. Waktu Endra ke rumahmu, bawa nangka, pisang. Melamar kamu
- Yang di Lamongan ta?
+ Iya. Ya kasian. Tapi ya gimana ya?
- Lha sapa yang nyuru. Dia sendiri kok. Bukan aku yang minta toh?
+ Memang. Tapi satu hal yang pasti. Dia begitu cuinta ama kamu
- Masak?
+ Kalo gak cuinta gak mungkin sampe nekat begitu.
- Halah. Dulu ama Tri juga gitu kok. Jadi bukan aku aja yang digituin ama Endra
  Tapi denger-denger ada satu orang yang sampe sekarang cinta ama aku
+ Siapa?
- Ada dech
+ Ooo aku tau. Rido ya?
- Bukan
+ Sapa lho?
- Ada pokoknya
+ Kalo temen SMA yang suka ama kamu setahuku, Alm. Hasan, Rido, Endra. Masak Nuril?
- Ada satu lagi
+ Aku. Iya ta?
…………
+ Day…
……..

November, tanggal 22. Pagi ini, hari berganti sekali lagi. Mendung banyak tergantung di angkasa. Reremputan juga masih basah oleh embunnya. Ku masih ingin menyapamu sekali lagi.

+ Day…

…………

kita dulu pernah bersama
berbagi suka,
duka,
canda,
air mata…

kau sesuatu yang istimewa
kau memacu jantungku,
mengalirkan darahku,
mengobarkan semangatku

bagimu aku mungkin biasa saja
terlalu biasa
sama seperti semua

semua pasti hilang
semua pasti tergantikan
semua pasti pergi
semua pasti mati

waktu pun telah berbicara
kau sesuatu yang berbeda
kau mengalirkan air mataku,
menikam jantungku,
merobek hatiku…

ketika api jiwaku meredup
angin dingin kau tiup
kau bekukan,
kau hancurkan,
menjadi tetesan hujan
membasahi jalanan
malam ini…

_______________
August 24, 2011

Melupakanmu

Pernah ku rasakan hangatnya tatapanmu
Jelas terkenang manis senyum bibirmu
Ketika semua masih utuh
Ketika kau masih bisa ku sentuh

Takkan pernah ku lupakan senja kala itu
Darahku berdesir, mengalir deras di seluruh tubuh
Hati tak bisa mungkir, kau begitu memikatku
Saat lembut tanganmu menyentuhku
Saat kau jabat tanganku, kau ucapkan namamu

Pernah ku rasakan dinginnya malam
Saat kau berlalu dalam diam
Tanpa kata, tanpa titik koma
Meninggalkanku dengan ribuan tanda tanya

Takkan pernah ku mengerti
Arti diam dalam raut wajahmu
Tak ada lagi hangat mentari
Apalagi canda tawamu

Semua hilang, semua berlalu
Waktu terus berjalan, dan sudah terlalu jauh
Senyummu mulai menyakitkan,
Ku harus mulai melupakanmu

________________
August 19, 2011

Dengkulku

Mungkin malam ini,
titik terdekat antara bulan dan bumi
ku bisa merasakan hadirmu,
hangatmu,
ceriamu,
senyummu

Meski ku tak bisa menyentuhmu,
mendekapmu,
menjamahmu..
tapi ku bisa menikmati indahmu
sambil memeluk dengkulku…

_____________
February 4, 2011

Kisahku denganmu

To: Marina Sagitarius

Ini kisahku denganmu.

Semua berawal dari lima tahun lalu. Kau teman baruku. Kau satu dari segelintir wanita yang ada di sekitarku. Selain kau, juga ada Chinta dan Irene yang baru saja merasakan suasana kampus di kota ini, di malam hari. Malam itu, meski suasana di kampus cukup ramai, aku yang ada di depanmu hanya memandangmu tanpa bisa mengucapkan kata, seperti biasa.

Malam pun berganti pagi. Pagi pergi, malam datang lagi. Dan kau masih di sekitarku. Aku masih di sekitarmu. Kita mulai banyak berbicara. Kita mulai sering bercanda. Malam-malamku mulai terisi wajahmu, senyum manismu, lesung pipitmu. Hingga malam berlalu, berganti pagi. Pagi pergi, malam datang lagi. Kau masih di sekitarku.

Setiap malam ku saksikan senyummu. Dan tak terasa sudah ratusan malam senyum manismu ku nikmati, hingga akhirnya mulai ku kagumi, mulai ku rindukan, tak pernah ingin ku lewatkan. Begitu juga perasaan di hatiku yang telah berubah meskipun aku tak dapat mendefinisikannya. Atau mungkin aku terlalu takut mendefinisikan, sehingga perasaan ini ku biarkan. Entah apa namanya, ku tak ingin mencarinya dalam kamus-kamus di perpus-perpus, ku hanya ingin menikmati saja.

Malam pun datang bersama bulan yang masih saja beredar. Kadang terlihat cerah berbinar, kadang redup tertutup awan. Tak seperti senyummu yang malam itu terlihat semakin manis di mataku. Mengalir dalam desir darahku, menuju jantungku. Menggetarkannya, memacu degupnya. Mungkin ini yang namanya cinta. Tapi ku masih takut menyebutnya. Aku hanya memandang bulan yang belum bundar sempurna, ku titipkan perasaan ini padanya.

Hal yang paling ku takuti adalah dibenci oleh orang yang ku cintai. Tiga tahun sebelum bertemu denganmu, ku rasakan hal itu. Dibenci karena mencintai. Aku tak ingin hal itu terjadi lagi. Tapi anehnya kini aku tak tahu, aku takut kau membenciku atau aku takut mencintaimu. Hingga -yang mungkin saja- cinta ini, ku biarkan. Tak ku ucapkan.

Hingga saat malam datang bersama bulan yang tak terlihat karena awan begitu pekat. Aku tersentak, hatiku berontak, kebenaran terkuak. Kau tak lagi sendiri. Perasaan ini pun jadi tak berarti. Ku lihat kau bersama lelaki yang mencintaimu, dan kau memanggilnya Toni, kekasih hatimu. Bulan enggan muncul lagi hingga datangnya pagi.

Malam-malam berikutnya seakan hampa. Seakan ada lubang besar di dalam jiwa. Walau senyummu masih menghiasi wajahmu, tapi bukan untukku. Senyum yang masih saja manis, seperti pelangi yang berlapis-lapis walau sedikit membuat hati ini teriris. Dan lesung di pipimu, terus saja menyiksaku. Ingin rasanya ku ambil darimu semua keindahan, ku rekatkan pada layang-layang, ku terbangkan menuju bulan agar bisa ku nikmati setiap malam.

Kini, ku masih menikmati senyummu yang masih terbias di wajah bulan yang masih datang setiap malam. Sementara perasaanku masih ku titipkan padanya, ku mencoba menikmati suasana yang sedikit berbeda. Melihatmu tersenyum, tertawa bersama kekasihmu. Senyum yang masih memacu degup jantungku, meski sedikit menyayat hatiku.

Suatu saat nanti akan ku habiskan seluruh malam bersama bulan. Ditemani secangkir kopi, sekumpulan kenangan, dan beberapa lembar senyummu. Ku ceritakan pada bulan suatu kisah tentang perasaan -yang mungkin saja cinta- ini yang akan ku kuburkan di batas langit dan bumi, di penghujung malam, di awal pagi.

Surabaya, November 2010

Maaf

Sudah lama sekali
Tapi kau masih saja sulit dihubungi
Jarak mungkin tak seberapa jauh
Antara kau dan aku

Tak perlu menyeberangi lautan
Tak harus mendaki pegunungan
Tak ada rimbunnya hutan
Ataupun terjalnya jalan

Meski ada jurang
Yang begitu dalam,
Begitu lebar
Di hatiku,
Di hatimu

Ku hanya ingin ucapkan maaf
Tapi telponmu nggak kau angkat
Sms nggak kau balas
Apa aku harus memelas?

Kenapa juga kau selalu minta maaf padaku
Setiap kali aku telpon kamu
“Maaf nomer yang anda tuju bla bla bla blu blu blu…”
Asal kau tahu, ku sudah memaafkanmu
Sejak dulu

September 17, 2010

Dimulai dari mana?

To: kar****@somewhere.co.id
Cc: marixx@phonebook.co.id

Apa kabar temanku? Maaf aku harus nulis disini. Kau sulit dihubungi.

Kau pernah bilang, dia juga baru saja bilang: teman adalah teman. Aku mengartikannya: kau dan dia enggan mencintai temanmu. Sepertinya bagimu teman adalah batas yang tak bisa dilewati. Seperti sebuah akhir halaman yang mengakhiri sebuah cerita. Untuk cerita lainnya harus dimulai dari lembar baru. Meskipun untuk membuka lembar baru harus menutup lembar yang lama. Harus melupakan. Mengorbankan.

Kau menutup pintu untuk seseorang yang belum tentu, baik atau buruk. Dan sepertinya kau telah memburukkan seseorang itu. Sebagaimana juga kau memburukkanku. Meski aku menyadari aku juga jauh dari kata baik. Tapi kau telah menghakimi tanpa bukti. Tanpa pengadilan, tanpa perasaan. Invalid! Maaf. Bukannya aku marah, hanya saja sedikit tidak terima, meski aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Kau juga pernah bilang: aku nggak mau berteman lagi denganmu jika kau masih seperti itu (mencintaimu-red). Dan dia baru saja bilang: aku nggak akan mau nerima telponmu lagi kalau terus bicara seperti itu (seorang teman bisa mencintaimu-red). Sedikit sakit bagiku. Persahabatan telah terkalahkan. Terpinggirkan. Terkorbankan. Mungkin aku kurang mengerti perasaanmu, perasaannya. Tapi ku hanya ingin yang terbaik bagimu, juga baginya. Percayalah.

Where do I begin to tell the story of how great a love can be?. The sweet love story that is older than the sea. That sings the truth about the love she brings to me. Where do I start?—-Andy Williams.

Harus dimulai dari mana sebuah cerita cinta itu? Dari kata “teman”? Bukan, katamu. Atau dari kata “musuh”? Haruskah kita memulai permusuhan terlebih dahulu?

Dan ketika cinta telah diijab-kabuli, sebuah cerita baru dimulai. Takkan lagi sering digunakan kata “aku”, “kamu”. Yang sering digunakan adalah kata “kita”. Seperti, “Kita mau kemana, yank” atau, “Anak kita gimana?” Dan kita harus menerima teman hidup kita itu apa adanya. (Maaf aku memakai kata “teman”. Kata “musuh” sangatlah tidak tepat). Kita pun harus sangat berhati-hati menjaga ucapan. Kita tidak bisa mengucapkan “aku nggak mau berteman lagi denganmu” dengan seenaknya.

Huft!!

Ternyata 300an kata diatas tidak ada arti. Semua hanya menjadi teori yang tak terbukti. Kau benar, dia juga. Teman haruslah teman saja. Pada prakteknya, cinta bisa mengubah teman menjadi musuh. Sebaiknya jangan mencintai temanmu. Jangan kehilangan temanmu. Cintailah seseorang yang bukan apa-apa karena ketika cinta menghilangkanya, kau tidak kehilangan apa-apa.

september 14, 2010

So Many Things

So many things I regret
but time is not stepping back

So many things I should do
but I did not do
So many words I should say
but I did not say
to you…

and there’s so many reasons too

hesitation, doubt, uncertainty
trauma, pain, afraid of being lonely
and all cruel words you can find in dictionary
is inside my brain, confusing me
bothering me, killing me

And still I don’t do what I should do
or maybe I do what I shouldn’t do

should I send it to you?

___________
May 25, 2010

Love Tonight

Sometimes love makes the sky clearer
Sometimes love is a cold heart breaker
Sometimes love brings flowers to you
Sometimes love rips your heart in two

And tonight,
Love is way out of sight
Leaves you crawling in the dark
With your heart ripped apart

You need time to be alone
You need time to find a home
Where you can mend your soul
And not fall down deeper into the hole

It’s midnight…
Please, stop crying your heart
You must be strong
You must keep moving on

All you need is a warm sunrise
It helps you think of a new life
Daylight will bring you love again
And happiness at the end

___________
May 19, 2010

Wipe Your Tears Away

You’re running out of happiness
Drowning deep in your sadness
Crawling in your darkness
You stuck in love and can’t go reverse

I try to get you out of the dark
But it was you that used to light up my heart
Now I have nothing to flare
I’ve lost someone that I care

That’s when you suddenly disappear

It’s like you’ve never been here
You go away with your heart
Right after it fell apart

And if you see this,
See the sky above you, please
I’m sure it will remain blue
And there’ll be a love hung up just for you

It will come down to you someday
Why don’t you wipe those tears away?


______________
February 18, 2010

I’m Nothing To You

You stand still like I’m not here
You shut your mouth like I have gone out
You do nothing, say nothing like I’m nothing… to you

What I’m gonna do is waiting for you
To do what you should do
Give me lots of word, not just one or two

But i think it’s not gonna happen
All the letters have gone to heaven
High up in the skies of seven
Leave me dying here and rotten…

_____________
January 31, 2010

The Moon Has Fallen

Nothing to say, the rain drifted my words away
No place to stay, the love was taken away
The moon has fallen, the heart has broken
I’m here, fighting against my own demon

The fight of good and bad,
Happy and sad
Love and hate,
But I think it’s too late….

Looks like the demons win,
They’re laughing loud on my sins

Now I’m waiting for forgiveness
From you, not from others
Thousands rivers won’t be enough to wash me
From my sins, and from all the demons in me

Here I am, standing in the brink of the day
Staring at the sun that has gone away
And a smile upon your face,
Make me never wanna leave this place

There you are, hardly I can see cause you just so far
I see your eyes blinking, are you a star?
But I remember you said you’re a moon
So I should have seen you soon

And here we are now,
You come to me somehow
You are getting closer and closer,
But why I feel like a stranger?

I remember,
It’s been 365 nights since the last goodbye
It’s too long for me, that’s the reason why

Now please come down, get lower
I’m on the top of the tower and can’t go higher
I have something to say to you
I need to tell you, that… I wanna stop loving you

_____________
February 5, 2010

A letter to a friend

It’s always hurt to see you cry
To see tears falling like rain from the sky
And there’s no answer for why
I never question myself, I never try

It’s always hurt to know there’s nothing I can do
And fact that I don’t even know what to do
It’s so sad but so true
Feels like the color blue

Someday we’ll see we were wrong
And then we realize the day has done
Time won’t turn back, it’s no use to regret
It’s not easy to say good bye, but someway we have to try

Sometimes it’s hurt to remember
About the days we had together
And a piece of heart inside me
Carved with your smile, you can see…

It was the day when I used to care
Think about you, anytime, anywhere
The day when I used to drive you home
When the night was so cold and you were alone

That’s just history, saved properly in my memory
Now we are so far and so different, and yet so silent….
No voices when you say, just few words on my display
That’s OK. Thanks anyway….

PS. I’m sad about the problem you had
But don’t worry my friend,
I’ll be the man when you look behind

______________
January 25, 2010

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.